Di Balik Prestasi Anak Bangsa
Tuesday, 07 August 2007
Oleh Idham Kholid, Dosen Program Studi Tadris Bahasa Inggris Fakultas Tarbiah IAIN; Alumnus Program Doktor Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta
EMPAT pelajar Indonesia berhasil menggondol dua medali perak dan dua medali perunggu di ajang Olimpiade Kimia International Ke-39 di Moskow. Itu adalah sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Kita bangga karena mereka mampu berkompetisi dengan 280 siswa tingkat SMA dari 68 negara di dunia dan berhasil mendapatkan prestasi. Ini sekaligus mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.
Yang menarik adalah pada saat pendidikan di Indonesia masih punya banyak persoalan, ternyata siswa kita mampu bersaing di tingkat internasional. Kalau image tentang keberhasilan siswa kita itu yang terlihat di mata internasional, boleh jadi sulit dipercaya pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dengan pendidikan di banyak negara di dunia. Tetapi semua tahu bahwa indikator mutu pendidikan sebuah negara tidak cukup hanya dengan prestasi segelintir siswa yang antara lain telah diperlihatkan oleh empat siswa kita di atas.
Oleh sebab itu, kegembiraan dan kekaguman kita terhadap prestasi semacam ini harus ditempatkan secara proporsional. Kita gembira dan kagum bahwa anak-anak Indonesia ternyata memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak-anak lain dari banyak negara di dunia.
Pada saat sama kita perlu mengkaji pendidikan model apa yang diberikan kepada anak-anak seperti ini sehingga mampu mengantarkannya untuk mencapai prestasi yang begitu gemilang. Lembaga pendidikan apa yang berhasil mendesain model pendidikan seperti itu? Apakah desain ini memang memungkinkan bagi seluruh atau setidaknya sebagian besar siswa kita di sekolah formal mengembangkan potensinya sehingga mampu berprestasi secara signifikan.
Terlepas dari beberapa pertanyaan di atas, kita memang sering kali melihat prestasi siswa yang kemudian begitu saja mampu membangun citra sekolah karena secara simplisit melihat prestasi itu sebagai sebuah keberhasilan program pendidikan di sekolah tersebut.
Saya pernah menghadiri sebuah pertemuan orang tua murid dengan pihak sekolah dalam rangka menegosiasikan dukungan orang tua terhadap berbagai program sekolah tersebut. Sang kepala sekolah waktu itu dengan bangga mengemukakan berbagai prestasi yang sudah dicapai sekolahnya. Antara lain adalah keberhasilan siswa sekolahnya memenangkan berbagai lomba berbahasa Inggris.
Bagi sesama pendidik, kekaguman kepala sekolah tentang prestasi bahasa Inggris sekolahnya itu dapat difahami. Tetapi bagi mereka yang mengetahui kondisi dunia pendidikan bahasa Inggris di Indonesia, kekaguman sang kepala sekolah itu bisa dinilai tidak proporsional. Sekolah-sekolah yang siswanya berhasil memenangkan berbagai lomba berbahasa Inggris tidak selalu menunjukkan sekolah di mana sang juara belajar telah memiliki program pembelajaran bahasa Inggris yang sedemikian rupa, yang juga mampu menghasilkan juara-juara.
Agustin, seorang akademisi yang mengerti banyak tentang dunia pendidikan bahasa Inggris di Indonesia, pada Kongres Bahasa Indonesia VIII tahun 2003 mengatakan, bahasa Inggris di sekolah belum mampu memenuhi harapan yang terdapat dalam kurikulum. Banyak fakta yang menunjukkan mereka yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dalam arti yang sesungguhnya, biasanya adalah siswa yang memiliki fasilitas untuk belajar bahasa Inggris di luar sekolah dengan berbagai kursus privat maupun lewat lembaga.
Apa yang dikemukakan Agustin di atas sesungguhnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Banyak pakar dan pengamat pendidikan bahasa Inggris yang mengemukakan keprihatinan terhadap hasil pembelajaran bahasa Inggris di lembaga pendidikan formal. Penelitian saya di IAIN Raden Intan juga menemukan bahwa (antara 1999-2004) lebih dari 50% lulusan SMA yang diterima di lembaga ini setiap tahunnya hampir tidak memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris. Hanya sekitar 3-5% saja yang telah memiliki fondasi bahasa Inggris cukup baik dan relatif siap menerima pembelajaran bahasa Inggris (yang relatif ideal) di tingkat perguruan tinggi.
Bagaimana dengan lulusan SMA yang diterima di perguruan tinggi lain? Memang belum ada penelitian tentang ini, tetapi dari hasil penelitian saya dan beberapa ahli lain, saya menyimpulkan, terdapat tiga kategori siswa sekolah lanjutan yang berhasil mengembangkan kemampuan bahasa Inggris.
Pertama, mereka yang mampu mengakses lembaga-lembaga kursus yang baik, yang biasanya hanya ada di kota. Kedua, mereka yang tidak mampu mengakses kursus bahasa Inggris yang baik karena bersekolah di daerah atau secara finansial tidak mampu, tetapi secara akademis potensial dan memiliki motivasi sangat tinggi terhadap bahasa Inggris. Ketiga, mereka yang bersekolah di lembaga-lembaga pendidikan model pondok pesantren yang memiliki program penguatan bahasa Arab dan Inggris.
Oleh sebab itu, mengapa kompetensi bahasa Inggris lulusan SMA yang diterima di IAIN seperti yang tergambar pada hasil penelitian saya di atas? Jawabannya antara lain karena kebanyakan mereka berasal dari SMA di daerah. Tentu saja banyak lulusan sekolah model pondok pesantren yang diterima di IAIN, tetapi tidak semua mereka berasal dari pondok pesantren yang dikenal telah berhasil membantu santrinya mengembangkan kemampuan bahasa Inggris seperti dilakukan Pondok Modern Gontor atau semacamya. Tentu saja ada lulusan SMA yang secara akademis potensial dan memiliki motivasi sangat tinggi terhadap bahasa Inggris yang juga diterima di IAIN, tetapi kategori ini biasanya adalah kelompok sangat kecil.
Karenanya, kalaupun ada perguruan tinggi yang mahasiswanya secara kuantitas terdiri dari banyak lulusan SMA yang memiliki kompetensi bahasa Inggris cukup baik, hal ini belum bisa dijadikan indikator keberhasilan pendidikan bahasa Inggris di sekolah lanjutan.
Kembali kepada prestasi yang diraih oleh putra-putri terbaik bangsa ini pada olimpiade kimia yang dikemukakan di atas, pastilah kita sepakat ini bukan indikator keberhasilan pendidikan kita. Hal ini tentu tidak dimaksudkan untuk tidak mengapresiasi prestasi yang begitu mengagumkan.
Saya sepakat prestasi ini patut menjadi kebanggaan kita semua hingga dalam batas tertentu bisa menjadi motivasi bagi siswa-siswi kita. Tetapi hal ini jangan dijadikan apologi terhadap kenyataan bahwa di balik prestasi gemilang putra-putri terbaik bangsa, pendidikan kita masih punya banyak persoalan. (*)
Filed under: artikel, berita 2007